Umat Buddha Yamatitam adalah bagian dari Suku Alifuru, suku pedalaman Pulau Seram yang hidup sederhana dan berpindah-pindah di tiga gunung. Sebelum mendapat pembinaan dari Bhikkhu Sangha, pola hidup mereka masih sangat tradisional, dan mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian.
Perjumpaan mereka dengan Buddhadharma bermula dari sebuah pertemuan tak terduga. Anak-anak Yamatitam yang turun gunung untuk menukar hasil kebun bertemu dengan seorang umat Buddha dari Maluku. Meski komunikasi sangat terbatas, pertemuan itu membuka jalan menuju perubahan besar.
Melalui umat tersebut, pihak Suku Yamatitam kemudian diperkenalkan kepada Sangha Theravada Indonesia (STI) setelah ia berkenalan dengan kepala suku Yamatitam dan melihat kondisi masyarakat yang tertinggal. Atas permintaan tertulis dari pihak suku, STI menunjuk Bhante Siriratano sebagai pembina. Pada 20–26 Mei 2014, Bhante bersama rombongan umat Ambon melakukan kunjungan pertama ke Yamatitam—sebuah perjalanan penuh tantangan namun disambut dengan tradisi penerimaan khas suku pedalaman.
Sejak kunjungan pertama itu, pembinaan umat terus berlangsung. Bhante Siriratano rutin menembus hutan, sungai, dan medan berat untuk memastikan umat pedalaman tetap mendapat bimbingan Dharma. Dana Everyday pun berkomitmen mendampingi proses ini, menjaga agar nyala Dharma tetap menyala di tengah rimba Pulau Seram.
Pada bulan Maret mendatang, Dana Everyday kembali akan menemani Bhante Siriratano, melanjutkan pembinaan umat Yamatitam, Von, dan Gunung Payung—meneguhkan harapan bahwa Dharma akan terus bertumbuh di tanah leluhur Suku Alifuru.
Terakhir diperbarui 3 September 2026